Slogan 4 Sehat 5 Sempurna “Menyesatkan”?

Oleh Rosyadi Aziz Rahmat

Salam hormat kepada pengunjung blog ini. Sudah lama sekali saya tidak menulis karena tingkat kesibukan yang cukup tinggi. (Sok sibuk, hehe…) Pada kesempatan kali ini saya ingin sedikit mengulas slogan “4 Sehat 5 Sempurna”. Selamat menyimak.

Setiap kita tentu pernah mendengar slogan tersebut. Mulai dari anak TK hingga orangtua kita yang telah lanjut usia. Slogan ini telah mendarah daging hampir di seluruh pelosok di Indonesia karena selalu diajarkan di setiap sekolah.

Slogan ini muncul pertama kali pada tahun 1950-an yang diciptakan oleh Prof. Poerwo Soedarmo, Bapak Gizi Indonesia, untuk memasyarakatkan perbaikan gizi masyarakat. 4 sehat 5 sempurna merupakan komponen yang mesti dipenuhi dalam kebutuhan pokok pangan manusia, yang terdiri dari makanan pokok, sayur-sayuran, lauk pauk, buah-buahan, dan disempurnakan dengan susu.

Seiring berjalannya waktu, ternyata slogan ini banyak dikaji dan disoroti oleh para pemerhati. Namun yang paling penting slogan ini telah mengubah konsep berpikir masyarakat mengenai gizi, di mana kalau makan mesti ada semua komponen tersebut dan susulah sebagai penyempurna zat gizi. Padahal kandungan susu dapat digantikan oleh empat komponen lainnya.

Belakangan ini muncul istilah baru yaitu “Diet Seimbang” sebagai pengganti slogan “4 Sehat 5 Sempurna”. Bertentangan dengan slogan “4 Sehat 5 Sempurna”, istilah ini justru menimbulkan kebingungan karena tidak memberikan arahan perilaku apapun, tidak menunjukkan bagaimana yang sesuai dengan maksud dari istilah tersebut, masih abstrak. Namun hal ini tidak berarti slogan “4 Sehat 5 Sempurna” lebih baik karena slogan ini juga menimbulkan persepsi di masyarakat bahwa bila tidak minum susu, maka tidak sehat dan akan kekurangan gizi.

Masyarakat yang tidak mampu membeli susu sering beranggapan bahwa anak mereka kurang gizi. Di satu sisi memang benar kurang gizi karena mereka tidak tahu apa bahan makanan yang bergizi tinggi yang dibutuhkan anak dengan harga terjangkau, seperti tahu dan tempe, sehingga makanan yang diberi ke anak lebih banyak nasi (karbohidrat), namun rendah protein.

Masyarakat yang mampu membeli susu beranggapan telah memberikan gizi yang baik, namun ternyata anaknya kelebihan gizi sehingga menjadi obesitas dalam usia dini.

Zat gizi yang dibutuhkan tubuh dapat digolongkan menjadi karbohidrat, protein, lemak, air, dan mineral. Komposisi dari masing-masing komponen dapat berbeda-beda tergantung usia, aktivitas, dan penyakit. Misalnya anak kecil membutuhkan protein lebih besar karena diperlukan untuk pertumbuhan, orang dewasa yang bekerja berat lebih membutuhkan karbohidrat sebagai sumber energi, dan pada penyakit tertentu konsumsi air ada yang mesti sangat dibatasi.

Solusi untuk masalah ini masih menjadi pembahasan para ahli gizi. Di balik permasalahan istilah tersebut, hal yang paling penting adalah pemenuhan kebutuhan tubuh secara benar, pemerataan peningkatan gizi masyarakat, dan yang tidak kalah penting, edukasi gizi yang benar karena masyarakat juga perlu tahu bahwa makanan bergizi tidak harus mahal, tempe yang harganya relatif murah mempunyai kandungan protein yang tinggi, sementara burger yang mahal justru menjadi sumber penyakit.

Kata-kata 5 sempurna juga perlu dihapus untuk menghilangkan persepsi bahwa setiap orang membutuhkan susu. Memang susu itu penting, namun bukan berarti susu menjadi keharusan dalam pemenuhan kebutuhan zat gizi.

About these ads

11 Komentar

Filed under Kesehatan

11 responses to “Slogan 4 Sehat 5 Sempurna “Menyesatkan”?

  1. iya ni, slogannya menyesatkan…
    klo susu murah sih gpp, sekarang susu mahal bos…

  2. muhasriady

    munkin lebih tepatnya sekarang…. slogannya itu makanan beragam dan seimbang………..

  3. Efi supariyanti

    Setuju skalie…kok beli susu…mo beli bwang merah az se-indnsia raya pda ribut. Org zmn dl g mnum su2 yo pd jd pejabat…

    • iya benar, tapi saya juga gak bilang susu itu gak penting lho. cuma saya ingin menyampaikan kepada para orangtua agar jangan berpikir anaknya harus diberi susu sementara mereka gak mampu untuk beli. apalagi sebenarnya zat gizi susu bisa diganti dengan sumber makanan yang lain, misalnya telur, tempe dan tahu. jauh lebih murah kan. untuk anak di bawah 2 tahun berikan aja ASI, tanpa susu sapi.

  4. ahmed

    Tempe, telur itu sudah temasuk di sayur dan lauk pauk. Kandungan lain yang tidak ada di keempat itu ada di susu. Dan susu memang bukan suatu keharusan tapi kesempurnaan gizi. Maaf kalau saya mencampurkan dengan analogi berhaji sebagai kesempurnaan (bagi yang mampu dan atau yang dimampukan orang lain”). So… Belilah susu jika mampu dan jika sangat mampu belilah dua, buat yang kurang mampu. Maaf jika ada salah kata dan persepsi, karena sya masih miskin ilmu.

    • tempe = sayur dan telur = lauk pauk. sebenarnya ini kurang tepat mas. di negara kita ini aja orang makan nasi pake lauk. kalau di luar negeri mereka lihat komposisi. mungkin mas ahmed pernah tahu tentang food combining atau mungkin pernah mendengarnya. nah, begitulah cara mereka menyusun menu.

      seharusnya kita juga mengerti kebutuhan tubuh, bukan keinginan tubuh. tubuh ingin kenyang, sehingga makan nasi sampai tambah beberapa kali. sementara sebenarnya tubuh tak butuh nasi sebanyak itu.

      kembali ke masalah susu. dalam susu itu terkandung karbohidrat, lemak, protein, air, vitamin, dan mineral. komplit deh. hanya saja yang sering menjadi kendala itu masalah harga susu. kalau dilihat kembali isi susu, sebenarnya bisa diganti dengan komponen lain. bukan sesederhana seperti persamaan yang saya tampilkan di awal.

      jadi susu bukan segalanya. jangan memaksakan diri atau orangtua untuk membeli susu. toh kakek buyut kita yang pintar-pintar juga gak ada minum susu seperti yang diiklankan di media massa. oya, susu yang saya maksud di sini susu selain ASI ya mas.

      kalau memang ada kelebihan rezeki, boleh-boleh aja membeli susu, terutama kalau untuk anak yang susah makan. susulah yang jadi pengganti zat gizinya walaupun tidak bisa secara penuh.

  5. ahmed

    Oya satu lagi mencobalah untuk meminum susu kambing sebagai variasi susu. semoga bermanfaat.

    • iya, betul mas. sebenarnya minum susu untuk anak yang sudah disapih dan orang dewasa itu juga anjuran nabi kita, termasuk minum susu kambing. kalau di tanah arab susu itu murah dan mudah mendapatkannya. kalau di tanah kita mesti beli dengan harga yang sangat mahal.

  6. ety

    setuju, susu memang tidak dibutuhkan oleh tubuh bahkan justru memicu munculnya penyakit. Faktanya, susu (bukan susu segar)adalah makanan yg sulit dicerna dan penghasil mukus (lendir) yg bikin penyakit. Dan rpanya ini sudah disepakati oleh para ahli, sehingga pada Tumpeng Pedoman Gizi Seimbang, susu dikelompokkan ke dalam makanan hewani. Artinya, kli sudah memenuhi kecukup protein dari hewani..sudah tak diperlukan lagi.

  7. pandandi

    mungkin disini saya sedikit mencoba membuka wawasan saja, slogan 4 sehat 5 sempurna sebenarnya diluncurkan saat tahun 1950 yang merupakan saat indonesia baru bebas dari cengkeraman penjajahan belanda dan jepang. kalo kita lihat indonesia saat itu pendidikan indonesia masih sangat tertinggal jauh dan hanya segelintir masyarakat yang mengecap pendidikan setingkat smp maupun sma apalagi kuliah. nah disinilah relevansi dari slogan 4 sehat 5 sempurna, bukan bermaksud membodohi atau menyesatkan tetapi mengajari secara perlahan mengenai hidup sehat itu apa bagi masyarakat. apabila sekarang kata-kata ini sudah tidak relevan marilah, sebagai masyarakat yang sudah berkembang dan semakin pintar, mencari cara yang lebih baik lagi untuk memenuhi kesehatan kita. bukan menyalahkan masa lalu tapi memperbaikinya untuk masa depan. mungkin ini sepenggal kata dari saya…

    wassalam =)

    • Terima kasih Pak/Bu
      Tidak ada yang salah dengan masa lalu karena itu mungkin memang cocok dengan zamannya. Saya mengangkat hal ini karena saya merasa slogan tersebut sudah tidak cocok lagi untuk digunakan saat ini karena alasan-alasan yang sudah saya paparkan di atas. Semoga cukup jelas.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s