Kitabu at-Tauhid — Pembahasan 001

BAB 1

TAUHID [HAKIKAT DAN KEDUDUKANNYA]

Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah

Diterjemahkan oleh M. Yusuf Harun, MA

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Tidak Aku ciptakan jin dan Manusia melainkan hanya untuk beribadah (1) kepada-Ku.” (QS.  Adz-Dzariyat: 56 ).

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): “Beribadalah kepada Allah (saja) dan jauhilah thaghut(2) . (QS.  An-Nahl: 36).

“Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 23-24).

“Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabat(mu). Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” ( QS. Al-An’am: 151-153).

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barang siapa yang ingin melihat wasiat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tertera di atasnya  cincin stempel milik beliau, maka supaya membaca firman Allah Subhanu wa Ta’ala: “Katakanlah ( Muhammad ) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepadaNya, dan “Sungguh inilah jalan-Ku berada dalam keadaan lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan yang lain. (3)

Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Aku pernah diboncengkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas keledai, kemudian beliau berkata kepadaku: “wahai Muadz, tahukah kamu apakah hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hamba-Nya, dan apa hak hamba-hamba-Nya yang pasti dipenuhi oleh Allah? Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”, kemudian beliau bersabda: “Hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hamba-Nya ialah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah ialah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang-orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, lalu aku bertanya: “ya Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang? beliau menjawab: “Jangan engkau lakukan itu, karena khawatir mereka nanti bersikap pasrah.” (HR. Bukhari, Muslim).

Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

  1. Hikmah diciptakannya jin dan manusia oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  2. Ibadah adalah hakikat (tauhid), sebab pertentangan yang terjadi antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kaumnya adalah dalam masalah tauhid ini.
  3. Barangsiapa yang belum merealisasikan tauhid ini dalam hidupnya, maka ia belum beribadah (menghamba) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah sebenarnya makna firman Allah:
  4. “Dan sekali-kali kamu sekalian bukanlah penyembah (Tuhan) yang aku sembah.” (QS. Al-Kafirun: 3).

  5. Hikmah diutusnya para Rasul [adalah untuk menyeru kepada tauhid, dan melarang kemusyrikan].
  6. Misi diutusnya para Rasul itu untuk seluruh umat.
  7. Ajaran para Nabi adalah satu, yaitu tauhid [mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala saja].
  8. Masalah yang sangat penting adalah: bahwa ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan terealisasi dengan benar kecuali dengan adanya pengingkaran terhadap thaghut.
  9. Dan inilah maksud dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    “Barang siapa yang mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah, maka ia benar-benar telah berpegang teguh kepada tali yang paling kuat.” (QS. Al-Baqarah: 256).

  10. Pengertian thaghut bersifat umum, mencakup semua yang diagungkan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  11. Ketiga ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al-An’am menurut para ulama salaf penting kedudukannya, di dalamnya ada 10 pelajaran penting, yang pertama adalah larangan berbuat kemusyrikan.
  12. Ayat-ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al-Isra’ mengandung 18 masalah, dimulai dengan firman Allah:
  13. “Janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, agar kamu tidak menjadi terhina lagi tercela.” (QS. Al-Isra’: 22).

    Dan diakhiri dengan firman-Nya:

    “Dan janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, sehingga kamu (nantinya) dicampakkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan tercela, dijauhkan (dari rahmat Allah).” (QS. Al-Isra’: 39).

    Dan Allah Subahanu wa Ta’ala mengingatkan kita pula tentang pentingnya masalah ini, dengan firman-Nya:

    “Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu.” (QS. Al-Isra’: 39).

  14. Satu ayat yang terdapat dalam surat An-Nisa’, disebutkan di dalamnya 10 hak, yang pertama Allah Subhanahu wa Ta’ala memulainya dengan firman-Nya:
  15. “Beribadahlah kamu sekalian kepada Allah (saja), dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (QS.  An-Nisa’: 36 ).

  16. Perlu diingat wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat akhir hayat beliau.
  17. Mengetahui hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib kita laksanakan.
  18. Mengetahui hak-hak hamba yang pasti akan dipenuhi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila mereka melaksanakannya.
  19. Masalah ini tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat (4).
  20. Boleh merahasiakan ilmu pengetahuan untuk maslahat.
  21. Dianjurkan untuk menyampaikan berita yang menggembirakan kepada sesama muslim.
  22. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa khawatir terhadap sikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  23. Jawaban orang yang ditanya, sedangkan dia tidak mengetahui adalah: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.
  24. Diperbolehkan memberikan ilmu kepada orang tertentu saja, tanpa yang lain.
  25. Kerendahan hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga beliau hanya naik keledai, serta mau memboncengkan salah seorang dari sahabatnya.
  26. Boleh memboncengkan seseorang di atas binatang, jika memang binatang itu kuat.
  27. Keutamaan Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu.
  28. Tauhid mempunyai kedudukan yang sangat penting.

  1. Ibadah ialah penghambaan diri kepada Allah  Subhanahu wa Ta’ala dengan mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan inilah hakekat agama Islam, karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala  semata, yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya, dengan penuh rasa rendah diri dan cinta.
  2. Ibadah berarti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan suatu amal akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala  sebagai ibadah apabila diniati dengan ikhlas karena Allah semata; dan mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  3. Thoghut ialah : setiap yang diagungkan  – selain Allah Subhanahu wa Ta’ala – dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi ; baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia ataupun setan.
  4. Menjauhi thoghut berarti mengingkarinya, tidak menyembah dan memujanya, dalam bentuk dan cara apapun.

  5. Atsar ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Abi Hatim.
  6. Tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Muadz agar tidak memberitahukannya kepada meraka, dengan alasan beliau khawatir kalau mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga tidak mau berlomba-lomba dalam mengerjakan amal shaleh. Maka Mu’adz pun tidak memberitahukan masalah tersebut, kecuali di akhir hayatnya dengan rasa berdosa. Oleh sebab itu, di masa hidup Mu’adz masalah ini tidak diketahui oleh kebanyakan sahabat.

Diunduh dari http://www.islamhouse.com

Diedit agar dapat ditampilkan tanpa mengubah isi dan makna oleh Rosyadi Aziz Rahmat

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Kitab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s