Kitabu at-Tauhid — Pembahasan 002

BAB 2

KEISTIMEWAAN TAUHID

DAN DOSA-DOSA YANG DIAMPUNI KARENANYA

Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Diterjemahkan oleh M. Yusuf Harun, MA

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Orang-orang yang beriman dan tidak menodai keimanan (1) mereka dengan kedzhaliman (kemusyrikan) (2), mereka itulah orang-orang yang mendapat ketentraman dan mereka itulah orang-orang yang mendapat jalan hidayah.” (QS. Al An’am: 82).

Ubadah bin Shamit  Radhiyallahu ‘anhu menuturkan:  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang bersyahadat (3) bahwa tidak ada sesembahan yang hak   (benar) selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba dan Rasul-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, serta Ruh dari pada-Nya, dan surga itu benar adanya, neraka juga benar adanya, maka Allah pasti memasukkanya kedalam surga, betapapun amal yang telah diperbuatnya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula hadits dari Itban Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan neraka bagi orang orang yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’ dengan ikhlas dan hanya mengharapkan (pahala melihat) wajah  Allah”.

Diriwayatkan dari Abu Said Al Khudri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Musa berkata: “Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk mengingat-Mu dan berdoa kepada-Mu”, Allah berfirman:” ucapkan hai Musa ‘Laa ilaaha illallah’. Musa berkata: “ya Rabb, semua hamba-Mu mengucapkan itu”, Allah menjawab:” Hai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya –selain Aku- dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu sisi timbangan dan kalimat ‘Laa ilaaha illallah’ diletakkan pada sisi lain timbangan, niscaya kalimat ‘Laa ilaaha illallah’ lebih berat timbangannya.” (HR. Ibnu Hibban, dan Hakim sekaligus menshahihkan-nya).

Tirmidzi meriwayatkan hadits (yang menurut penilaiannya hadits itu hasan) dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu ia berkata:  “aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Hai anak Adam, jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sejagat raya, dan engkau ketika mati dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sejagat raya pula”.

Kandungan bab ini:

  1. Luasnya karunia Allah ‘Azza wa Jalla.
  2. Besarnya pahala tauhid di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  3. Tauhid juga dapat menghapus dosa.
  4. Penjelasan tentang ayat yang ada dalam surat Al  An’am.
  5. Perhatikan kelima masalah yang ada dalam hadits Ubadah.
  6. Jika anda memadukan antara hadits Ubadah, hadits Itban dan hadits sesudahnya, maka akan jelas bagi anda pengertian kalimat ‘Laa ilaaha illallah’ juga kesalahan orang-orang yang tersesat karena hawa nafsunya.
  7. Perlu diperhatikan syarat-syarat yang disebutkan  dalam hadits Itban yaitu ikhlas semata-mata karena Allah, dan tidak menyekutukan-Nya.
  8. Para Nabipun perlu diingatkan akan keistimewaan ‘Laa ilaaha illallah’.
  9. Penjelasan bahwa kalimat ‘Laa ilaaha illallah’ berat timbangannya mengungguli berat timbangan seluruh makhluk, padahal banyak orang yang mengucapkan kalimat tersebut.
  10. Pernyataan bahwa bumi itu tujuh lapis seperti halnya langit.
  11. Langit dan bumi itu ada penghuninya.
  12. Menetapkan sifat-sifat Allah apa adanya, berbeda dengan pendapat  Asy’ariyah (4).
  13. Jika Anda memahami hadits Anas, maka anda akan mengetahui bahwa sabda Rasul yang ada dalam hadits Itban: “Sesungguhnya Allah mengharamkan masuk neraka bagi orang-orang yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’ dengan penuh ikhlas karena Allah, dan tidak menyekutukan-Nya”, maksudnya adalah tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, bukan hanya mengucapkan kalimat tersebut dengan lisan saja.
  14. Nabi Muhammad dan Nabi Isa adalah sama-sama hamba Allah dan Rasul-Nya.
  15. Mengetahui keistimewaan Nabi Isa, sebagai Kalimat Allah(5).
  16. Mengetahui bahwa Nabi Isa adalah ruh di antara ruh-ruh yang diciptakan Allah.
  17. Mengetahui keistimewaan iman kepada kebenaran adanya surga dan neraka.
  18. Memahami sabda Rasul: “betapapun amal yang telah dikerjakannya”.
  19. Mengetahui bahwa timbangan (di hari kiamat) itu mempunyai dua daun.
  20. Mengetahui kebenaran adanya Wajah bagi Allah.

  21. (1)  Iman ialah ucapan hati dan lisan yang disertai dengan perbuatan, diiringi dengan ketulusan niat karena Allah, dan dilandasi dengan berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    (2)  Syirik disebut kezhaliman karena syirik adalah menempatkan suatu ibadah tidak pada tempatnya, dan memberikannya kepada yang tidak berhak menerimanya.

    (3)  Syahadat ialah persaksian dengan hati dan lisan, dengan mengerti maknanya dan mengamalkan apa yang menjadi tuntutannya, baik lahir maupun batin.

    (4)  Asy’ariyah adalah salah satu aliran teologis, pengikut Syaikh Abu Hasan Ali bin Ismail Al Asy’ari (260 – 324 H = 874 – 936 M). Maksud penulis di sini ialah menetapkan sifat sifat Allah sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Termasuk sifat yang ditetapkan adalah kebenaran adanya wajah bagi Allah, mengikuti cara yang diamalkan kaum salaf shaleh dalam masalah ini, yaitu: mengimani kebesaran sifat sifat Allah yang dituturkan Al-Qur’an dan As-Sunnah tanpa tahrif, ta’thil, takyif dan tamtsil. Adapun Asy’ariyah, sebagian mereka ada yang menta’wilkannya (menafsirinya dengan makna yang menyimpang dari makna yang sebenarnya) dengan dalih bahwa hal itu jika tidak dita’wilkan bisa menimbulkan tasybih (penyerupaan) Allah dengan makhluk-Nya, akan tetapi perlu diketahui bahwa Syaikh Abu Hasan sendiri dalam masalah ini telah menyatakan berpegang teguh dengan madzhab salaf shaleh, sebagaimana beliau nyatakan dalam kitab yang ditulis di akhir hidupnya, yaitu “Al Ibanah ‘an ushulid diyanah”  (editor: Abdul Qodir Al-Arnauth, Bairut, Makatabah Darul Bayan, 1401 H) bahkan dalam karyanya ini beliau mengkritik dan menyanggah tindakan ta’wil yang dilakukan oleh orang-orang yang menyimpang dari madzhab salaf.

    (5)  Kalimat Allah maksudnya bahwa Nabi Isa itu diciptakan Allah dengan firman-Nya “Kun” (jadilah) yang disampaikan-Nya kepada Maryam melalui malaikat Jibril.

Diunduh dari www.islamhouse.com

Diedit agar dapat ditampilkan tanpa mengubah isi dan makna oleh Rosyadi Aziz Rahmat

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Kitab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s