Reformasi Peran Aktif Mahasiswa

Oleh Rosyadi Aziz Rahmat

Mahasiswa merupakan cikal bakal pemimpin bangsa. Perguruan tinggi memiliki peran yang sangat besar dalam hal ini. Mahasiswa belajar untuk menjadi pemimpin yang bisa diharapkan, baik melalui kegiatan formal, ekstrakurikuler kampus, ataupun organisasi ekstrakampus. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat).

Idealnya, pendidikan yang tinggi juga mencerminkan tingginya tingkat intelektualitas mahasiswa. Mereka bisa memimpin, membangun, dan menjadi generasi yang diharapkan bangsa dan negaranya. Artinya peran mahasiswa sangat diharapkan dalam pembangunan. Namun peran yang bagaimanakah yang mampu mendukung pembangunan? Apakah peran mahasiswa selama ini sudah cukup untuk mendongkrak ketertinggalan bangsa?

Masalah ini perlu mendapat pembahasan tersendiri dan perlu penilaian secara obyektif, tidak hanya dari pihak mahasiswa atau pemerintah, namun juga masyarakat yang merasakan ada tidaknya kontribusi mahasiswa. Sebagai gambaran, mahasiswa telah berhasil “membawa” Indonesia ke dalam era reformasi dengan tanda runtuhnya pemerintahan orde baru.

Setelah sekian lama mahasiswa “tidak” mampu menunjukkan perannya untuk kemajuan bangsa, akhirnya pada tahun 1998 tersebutlah tanda dimulainya kembali kebangkitan peran mahasiswa dalam hal menentukan nasib dan masa depan bangsa. Hasilnya, dapat kita lihat sekarang mahasiswa bisa lebih sering dan bebas memberikan kritik pada pemerintah, bisa lebih bebas berbicara, berpendapat, dan menyampaikan aspirasi, serta bisa turut serta dalam pengawasan pembangunan. Istilah populernya “demonstrasi”.

Sepintas demonstrasi merupakan cara yang efektif untuk menyampaikan aspirasi dan merupakan “buah” dari proses demokrasi. Namun apakah cara ini layak untuk dilakukan oleh kalangan intelek seperti mahasiswa?

Bila kita perhatikan tujuan dilakukannya demonstrasi adalah untuk kebaikan. Hanya saja cara penyampaiannya seringkali diwarnai dengan ucapan-ucapan yang tidak layak diucapkan, caci maki, membakar amarah, merusak fasilitas, membuat kemacetan lalu lintas, sehingga tujuan yang baik tadi tidak dapat tercapai secara maksimal, justru membuat kerugian di pihak lain, misalnya supir angkot atau pengguna jalan raya lainnya. Tidak jarang juga terjadi perkelahian antar demonstran. Lebih parah lagi bila para demonstran melakukan pengrusakan alat dan fasilitas negara, misalnya kantor pemerintahan dan wakil rakyat, serta kendaraan pemerintah. Apakah mereka tidak tahu fasilitas tersebut dibiayai dan dirawat menggunakan uang rakyat?

Seharusnya mahasiswa yang kritis dapat menilai tindakan seperti ini tidaklah menyelesaikan masalah, justru menimbulkan masalah baru, misalnya beberapa mahasiswa perlu diamankan petugas karena dapat membahayakan. Tidak heran bila petugas keamanan bersikap keras kepada demonstran karena tindakan mereka yang anarki.

Tindakan seperti ini sama sekali tidak mencerminkan seorang mahasiswa yang dapat dijadikan contoh yang baik, mereka tidak bisa menjadi pemimpin karena ucapannya kurang baik dan cenderung berbuat kerusakan. Bagaimana mungkin orang seperti ini dapat dijadikan contoh oleh masyarakat, sementara mereka adalah calon wakil rakyat di kemudian hari? Justru mereka memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa mereka adalah “penjahat dari kampus” dalam arti “preman” yang berpendidikan di perguruan tinggi, sehingga tidak heran bila terkadang masyarakat sering dibuat marah bahkan menyerang mahasiswa.

Hal yang lebih parah lagi adalah bila isu yang dimunculkan terkadang hanya sekadar dugaan belaka tanpa bukti yang jelas. Tentu ini berarti melakukan tuduhan terhadap pihak tertentu. Ataupun isu tersebut sudah jelas, namun tidak ditelaah terlebih dahulu apa isu tersebut bertujuan baik atau merugikan.

Inilah gambaran demokrasi zaman sekarang, demokrasi “kebablasan”. Semua orang bisa bicara tanpa terkontrol dan dapat berbuat sesukanya tanpa memikirkan hak dan kepentingan orang lain. Semua orang bebas melakukan perbuatan yang tidak memiliki adab, kasar, bengis, dan penuh kemarahan. Makna reformasi itu sendiri diterjemahkan berbeda-beda sesuai kepentingan masing-masing dan sudah lari dari makna yang seharusnya.

Sebelas tahun reformasi belum memberikan perbaikan mental mahasiswa, justru sikap arogan yang semakin muncul. Kalau hanya sekadar demonstrasi dan berorasi di depan umum menuntut sesuatu, tidaklah diperlukan pendidikan yang tinggi. Orang tidak bersekolahpun bisa melakukan hal tersebut asal mereka berani menghadapi petugas keamanan. Jadi apa perbedaan mahasiswa dengan orang yang tidak pernah mengecap bangku sekolah?

Lantas, apabila demonstrasi dilakukan dengan tertib dan tidak ada kekacauan, apakah sudah dapat dikatakan sebagai contoh yang baik? Tidak juga, hal seperti itu hanya ada dalam konsep karena sebenarnya demonstrasi menunjukkan kekurangsabaran. Kenyataan di lapangan, seketat apapun diupayakan agar tertib dan tidak melakukan pengrusakan, tetap saja ada pihak yang dirugikan, misalnya pengguna jalan raya karena kegiatan demonstrasi sangatlah menarik perhatian masyarakat yang ingin melihat atau sekadar ingin tahu ada apa yang terjadi. Minimal sebuah kemacetan lalu lintas akan terjadi dengan adanya demonstrasi.

Hal yang tidak lucu bila ada demonstrasi menentang kenaikan BBM, sementara mereka membakar ban, membuat kemacetan, yang artinya pemborosan BBM. Tentunya ini merupakan hal ironi dengan yang dituntut oleh mahasiswa. Seharusnya, mahasiswa cerdas berusaha mencari bahan bakar alternatif saat harga BBM melambung tinggi, bukan membuang bahan bakar.

Sebagai bangsa yang beradab, tidak selayaknya tindakan “aneh” seperti itu terjadi. Hal ini dapat dicegah bila mahasiswa masih dapat berpikir dengan kepala dingin meskipun hati panas. Tidak ada satupun permasalahan yang tidak dapat diselesaikan bila kita berusaha mencari jalan keluarnya.

Sebenarnya masih banyak permasalahan yang perlu untuk diselesaikan bersama dan memerlukan bantuan mahasiswa yang kritis. Terkadang kita menjumpai keganjilan yang terjadi di masyarakat. Namun kita bisa menganggap hal itu biasa-biasa saja karena sudah umum dilakukan. Padahal tindakan tersebut merupakan suatu kesalahan. Misalnya, kebiasaan merokok di dalam angkutan umum. Pernahkah mahasiswa mengritisi masalah ini? Justru kebanyakan mahasiswa yang melakukan hal itu. Sudah jelas kebiasaaan ini melanggar hak asasi manusia karena menghirup udara segar tanpa kontaminasi asap rokok merupakan hak asasi setiap manusia.

Contoh lain, aksi parade motor gede beberapa waktu yang lewat dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Memang hal ini sah-sah saja karena merupakan upaya menunjukkan rasa nasionalisme yang tinggi melalui hobi pribadi. Namun mereka melakukan hal itu di tengah keprihatinan karena harga BBM naik. Pernahkah kita berpikir kalau kegiatan seperti ini merupakan suatu hal yang bisa menimbulkan rasa sedih di hati masyarakat miskin?

Keganjilan lainnya adalah mobil mewah dengan bahan bakar hanya premium. Kalau memang bisa memiliki mobil mewah, mengapa tidak sekaligus menggunakan bahan bakar pertamax? Tentu lebih baik dan dapat mengurangi tingkat polusi udara. Ternyata selama ini kalangan menengah ke ataspun dapat menikmati subsidi yang seharusnya lebih banyak diberikan kepada masyarakat yang lebih membutuhkan. Hal ini tidak pernah mendapat perhatian mahasiswa yang melakukan demonstrasi. Mungkin karena  masalah ini terlalu sepele sehingga tidak perlu dibesar-besarkan atau karena mahasiswa itu sendiri pelakunya.

Untuk itu dirasa masih perlu pembenahan mental mahasiswa agar lebih kritis dan benar-benar memperhatikan kepentingan bangsa. Jangan sampai ada timbul sikap arogan, anarki, dan tidak tampak seperti orang yang mendapat pendidikan. Alangkah lebih tepat mahasiswa belajar dengan baik agar mendapat prestasi maksimal, mampu mengabdi pada masyarakat, berkeinginan kuat untuk maju, sehingga bisa menjadi aset bangsa yang berharga dan dapat menaikkan nama baik bangsa di mata dunia.

Bagaimanapun jalur demonstrasi merupakan cara frontal yang identik dengan kekerasan, tidak sabar, putus asa, dan pemborosan, bukan identik dengan mahasiswa dan orang yang mampu berpikir jernih serta lapang dada.

Sebagai contoh adalah apa yang telah dilakukan oleh politikus dan kaum intelek bangsa Indonesia ketika memperjuangkan kemerdekaan. Terbukti, ternyata jalur diplomasi jauh lebih efektif dibandingkan jalur peperangan untuk melawan penjajah karena pada hakikatnya setiap kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Seorang mahasiswa yang intelek serta bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negaranya akan memikirkan solusi permasalahan bangsa, bukan justru menambah rumitnya masalah.

Rakyat Indonesia sudah terlalu lama dimanja dengan kekayaan alam yang melimpah ruah, namun belum bisa mengolah sendiri. Sumber daya alam Indonesia sangat banyak, tapi masih belum bisa diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat. Kita kekurangan sumber daya manusia untuk mengolahnya. Indonesia kaya minyak bumi, namun anehnya harus mengimpor BBM. Mahasiswa sekaranglah yang bertanggung jawab untuk masa depan bangsa karena mereka adalah calon pemimpin dan wakil rakyat.

Mahasiswa proaktif akan mencari solusi. Mahasiswa reaktif hanya bisa demonstrasi. Mahasiswa kritis mengintrospeksi diri. Mahasiswa apatis tidak peduli. Saatnya berbuat mulai dari sekecil apapun. Alangkah lebih baik dan lebih nyata bila dana yang digunakan mahasiswa untuk demonstrasi dialihkan untuk kegiatan bakti sosial membantu masyarakat miskin. Mari kita bantu masyarakat, bukan menghujat pemerintah. Mari kita selamatkan bangsa Indonesia!

Sumber gambar: http://www.detiknews.com/

Tinggalkan komentar

Filed under Nasehat & Motivasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s